SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

SD Negeri 81/X Pematang Rahim

Kec. Mendahara Ulu Kab. Tanjung Jabung Timur

Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan

29 Agustus 2016

Daftar Kabupaten dan Kota Bakal Tak Gaji PNS 4 Bulan


JAKARTA – Sebanyak 169 kabupaten dan kota bakal kesulitan membayar gaji pegawai negeri sipil (PNS) setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani membekukan penyaluran dana alokasi umum (DAU) tahun 2016.
Pembekuan penyaluran DAU sebesar Rp 19,4 triliun tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 125/PMK.07/2016 tentang penundaan penyaluran sebagian DAU tahun anggaran 2016.
Pembekuan dana DAU menjadi kabar buruk bagi para pegawai PNS di 169 kabupaten dan kota. Sebab, dengan dibekukannya dana DAU, maka gaji PNS terancam tak dibayarkan selama empat bulan ke depan, mulai September hingga Desember 2016.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, ada tiga hal yang menjadi pertimbangan Kemenkeu menunda penyaluran DAU, yakni perkiraan kapasitas fiskal, kebutuhan belanja dan perkiraan posisi saldo kas di daerah pada akhir tahun.
Sejumlah daerah daerah memprotes kebijakan tersebut. Sebab, kebijakan itu bakal membuat PNS di daerah bakal tidak gajian. Padahal, PNS diangkat oleh pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah.
Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman menjelaskan, penundaan atau pembekuan DAU sangat tidak logis, karena anggaran dari pemerintah pusat itu sebagian besar untuk gaji pegawai negeri sipil (PNS).
“Logikanya DAU itu enggak akan ditahan apalagi dipotong, karena peruntukan DAU itu kan sebesar-besarnya untuk kepentingan PNS. Nah, PNS kan yang menentukan keseluruhan urusan pusat,” ucap Usmar.
Di Kota Surabaya, sebanyak 16 ribu PNS terancam tidak gajian selama empat bulan akibat kebijakan tersebut. Sementara di Kabupaten Bogor, sebanyak 20 ribu PNS bakal mengalami hal serupa.
“Kalau DAU seratus persen kita pakai untuk gaji. Itu pun biasanya kurang. Saya tak bisa membayangkan kalau ditunda, masak gajinya kita kurang,” ungkap Walikota Surabaya Tri Rismaharini.
Berikut ini Peraturan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang berisi daftar kabupaten dan kota yang DAU-nya ditunda selama 4 bulan:
Sumber: http://pojoksatu.id

23 Agustus 2016

Wacana Kenaikan Harga Rokok Bakal Rusak Iklim Investasi



Wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus bakal merusak iklim investasi di Indonesia. ‎Terlebih, perkebunan tembakau dan industri rokok merupakan salah satu sektor yang banyak dilirik investor asing.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Willem Petrus Riwu mengatakan, sejumlah nama besar produsen rokok seperti Philip Morris, HM Sampoerna dan Bentoel merupakan investor terbesar di sektor ini. Selain itu, produsen rokok tersebut juga telah banyak menyerap tenaga kerja.
"Philip Morris, Sampoerna, Bentoel, itu investasinya besar. Beberapa tahun terakhir juga investasi terbesar itu juga salah satunya di rokok‎," ujar dia di Jakarta, Selasa (23/8/2016).
Jika kenaikan harga tersebut jadi diterapkan, lanjut Willem, maka bukan tidak mungkin para investor tersebut menutup usahanya di Indonesia. Hal tersebut akan merusak iklim investasi yang telah dibangun ‎selama ini.
"Harus hati-hati karena rokok ini sudah ada investasi asing, ini merusak iklim usaha. Kalau anda sebagai pengusaha kemudian harga dinaikkan tiba-tiba oleh pemerintah, apakah iklim usahanya akan bagus?," kata dia.
Selain itu Willem juga mengingatkan, dalam 5 tahun terakhir, sudah sekitar 2.000 industri rokok yang gulung tikar. Sedangkan saat ini industri rokok yang masih taat membayar cukai hanya tinggal 100 industri. Oleh sebab itu diharapkan wacana kenaikan harga rokok ini bukan malah memperburuk industri hasil tembakau (IHT) di Indonesia.
"Dalam 5 tahun sudah industri rokok banyak yang mati, dari 2.600 industri. Memang katanya masih ada 600 industri. Tapi sekarang hanya 100 industri yang bayar cukai," tandas dia.
Sebelumnya pada 22 Agustus 2016, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa sampai dengan saat ini, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) belum mengeluarkan aturan baru terkait tarif cukai rokok dan harga jual eceran rokok.
"Kemenkeu belum ada aturan terbaru mengenai harga jual eceran dan tarif cukai rokok sampai hari ini," katanya saat Konferensi Pers Tax Amnesty di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (22/8/2016).
Ia mengaku pemerintah sangat memahami studi dari Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia. Hasil studi ini menunjukkan sensitivitas atas kenaikan harga rokok terhadap konsumsi rokok.
Namun dijelaskan Sri Mulyani, Kemenkeu akan mengeluarkan kebijakan mengenai harga jual eceran dan tarif cukai rokok dengan sebelumnya memperhatikan Undang-Undang (UU) Cukai, termasuk dalam rangka Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017. 

Sumber:http://bisnis.liputan6.com/read/2583811/wacana-kenaikan-harga-rokok-bakal-rusak-iklim-investasi

05 Agustus 2016

Social Media Sebagai Pencitraan




Sekarang ini siapa siy yang ga punya sosial media dari mulai Facebook, Path, Instagram, Twitter, Linkedin sampai blog. Masing-masing dari kita mengisi sosial media dengan penuh macam rasa baik kebahagiaan, kesedihan hingga kegalauan. Tak menutup rasa malu untuk sekedar mengungkapkan perasaan hati dan sekedar mendapatkan like atau love.

Gembira rasanya saat status maupun picture yang kita upload di berikan jempol-jempol manis dan love yang buanyak. Sama halnya seperti menulis di blog, hal yang sama saya rasakan bahagia ketika ada yang mengomentari isi blognya syukur-syukur di komentarin dengan masukan sehingga menjadikan saya bisa menulis lebih baik lagi.

Namun sayangnya, alih-alih ingin berbagi justru mendapatkan kontra dari rekan yang tak sepemikiran. Tak pandai untuk menjelaskan berujung dengan UNFOLLOW berakhir UNFRIEND. Saya pribadi tentu pernah melakukan hahaha *maaf yang sudah saya unfriend* kalian rese kalau lagi laper.

Dalihnya adalah saya ga ingin banyak menuai kontroversi yang berujung sakit hati gara-gara perang status. Bukan masalahnya saya tak terima jika ada yang tak setuju dengan pemikiran maupun berita yang saya share tetapi justru ketika seseorang menampilkan attitude yang sebenarnya saat idenya tak selaras dengan orang lain. 

Dulu saat kali pertama saya mengenal Facebook tahun 2008, entahlah saya bisa terbilang alay dengan status "GEJE" ala-ala anak kekinian yang ga penting. Tapi sekedar lucu-lucuan ditanggapi oleh 4DL dia lagi, dia lagi...Menjadi permusuhan tentu tidak hanya saja ketika saya coba membuka memories yang lalu menjadi geli sendiri. Kenapa bisa se-alay ini lagi main di mall di update untung dulu ga ada tuh yang nyinyir kayak sekarang. *jadi kangen masa itu*. hahaha

Seiring berjalannya waktu teman saya di FB semakin banyak, saat ini tercatat hingga 3236 yang memang terdiri dari teman SD. teman SMP, teman SMU, teman kerja hingga guru maupun dosen serta orang-orang yang sempat saya interview bahkan rekan-rekan kerja yang kenalan dalam workshop kemudian menambahkan saya di list pertemanan. Awal mula hanya ada teman-teman dekat lama-lama teman yang hanya kenal di dunia maya. Sampai saat inipun masih banyak friend request yang belum saya approve hahaha (uda macam orang famous banyak yang nge-add).

Eksistensi saya saat ini mulai di rem, tak lagi membuat status yang menggambarkan kegalauan, keputusasaan, kemarahan ataupun kelebayan *uda insyaf* hahaha. Saya mulai menyadari ini terlebih saya sudah mempunyai seorang putri. Saya mulai belajar untuk tidak mengumbar yang menjadi masalah sensitif pribadi. 

Saya belajar dari seseorang yang statusnya penuh keluh dan kesah sementara ia sudah mempunyai seorang putri yang menginjak remaja. Ibu itu membuat status menjelekkan suaminya aduh pedih rasanya aib suami di umbar dan terbaca oleh semua orang khususnya anaknya. Saya ga bisa membayangkan bagaimana putrinya ketika membaca status ibunya. Akhirnya saya mencoba untuk buat status maupun upload gambar yang bisa bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Eksistensi di sosial media belum tentu mendatangkan hal baik jika kita tak pandai untuk mengelolannya. Cara saya dalam menjalani sosmed :

1. Be your self, saya pribadi kadang menginspirasi (huekk siapin baskom) dengan men-share hal-hal yang saya anggap bermanfaat ga hanya reminder buat saya tetapi juga buat orang lain. Kadang juga saya menyatakan ketidaksukaan dengan issue yang sedang kekinian, kadang saya upload foto atau status sekedar ingin update keberadaan saya dan posisi saat ini hahaha. Ya namanya juga saya wong biasa kadang bener kadang belok dikit hehehe.

2. Kembali ke niat dan tujuan dalam bersosmed, yang mau dibagikan untuk menyinyir, untuk menyindir, untuk memotivasi atau untuk menginspirasi?ingatlah tidak semua orang memahami apa yang kita bagikan dan tidak semua orang setuju dengan ide kita.

3. Selalu berpositif dalam pemikiran, jangan baper-an ada saudara bikin status dianggapnya nyindir kita, ada temen yang upload foto dianggap pamer.

4. Jangan jadi kompor, justru sebaliknya bertindak seperti air menenangkan, mengalir. Jadi ga perlu komen ga penting

Saya ga mau sosmed menjadikan pencitraan hingga akhirnya saya terjebak dalam ruang yang bukan menggambarkan diri saya sebenarnya. Menjalani apa adanya dan ga ingin terjadi kejenuhan karena pencitraan yang saya buat-buat sendiri. Dianggap menginspirasi bagi orang Alhamdulillah, dianggap sotoy ya sudahlah, dianggap pamer ya namanya juga persepsi orang lain. Beda kepala, beda pemikiran jadi beda pemahaman.

Akhirul kalam semoga kita bijak menggunakan sosmed bukan hanya sebagai sarana silaturahmi sampe sarana jualan tapi juga sebagai sarana informasi buat orang lain terlepas dari pencitraan. Ga enak loh pake topeng enaknya jadi diri sendiri.

Sumber : >>http://log.viva.co.id/news/read/805535-media-sosial--wadahnya-sebuah-pencitraan