Sambil menunggu waktu menarik jaring. Datuk Alai duduk
diatas kabin, sambil menikmati pais buatan Nek Lima. “ Fiz, kau liatkah itu ? “
datuk alai menunjuk kesuatu arah. Namun tak meluruskan jarinya, melainkan
ditekuk kedalam . Menurut kepercayaan orang bisa keteguran. Hafiz menatap
kerarah yang disebut datuknya.
‘ Ya tuk, bukannya itu kuala , kenapa ? tanya hafiz. “
Ya, maksudku kau liat betapa indahnya barisan pohon mangrove yang berjejer itu.
Hafiz menganalisa kalimat kakeknya. Ia memperhatikan barisan pohon yang tertata
indah mrngikuti lekukan teluk yang melebar membentuk kuala. “ itu kuasa tuhan
fiz, jika Tuhan berkehendak,apapun bisa terjadi” Kata datuk alai kecucunya.”
Tetapi tuk “ . Hafiz menghentikan
ucapannya. Datuk Alai menatap cucunya. “ . Kalau kau nanti melanjutkan
sekolah , kelak kau akan bahwa sungai terbentuk dari mata air. Tetapi di
tanjung jabung timur , ada sebuah cerita asal mula terbentuknya sungai. Cerita
itu berkisah tentang Ketam raksasa yang mendiami lautan tanjung jabung timur.
“ Ketam batu raksasa ? “ hafiz menatap datuknya. Ya tak
banyak orang tau tentang cerita ini,
tapi baiklah akan datuk ceritakan . Hafiz menunggu cerita datuk dengan melipat
tangannya di dada.
Mulailah datuk bercerita. “ Dahulu kala, seribu
tahun yang lampau, jauh sebelum orang banyak yang sampai kewilayah ini,
hiduplah seekor ketam . Ketam itu sangat besar dan kuat. Lebarnya melebihi
sepuluh kali lebar sungai kampung kita dan panjangnya serupa benar dengan
perjalanan dari Nipah panjang menuju sabak. Ketam itu berdiam disebuah gunung batu. Memiliki
sepasang sepit dan sepuluh pasang kaki. Cerita datuk terhenti sejenak.
“apa karena berdiam di
gunung batu, tuk disebut ketam batu ? tanya hafiz. “ ya “ Jawab sang datuk.
Kembali datuk melanjutkan ceritanya.
“ selain ketam itu, hiduplah pula sepasang suami
istri. Menurut cerita merekalah manusia pertama yang menginjakkan kaki dan
mendatangi daratan tanjung jabung timur. Ada yang mengatakan mereka berasal
dari suku melayu tua. Sang suami bernama Utuh Perigi dan sang istri bernama
Diyang jayuni. Sehari –hari mereka memancing ikan di tepi laut dan membuat huma
kecil di tepi gunung batu. Kehidupan mereka cukup bahagia. Tahun berganti
tahun, hingga sepuluh tahun usia perkawinan mereka. Mereka belum juga dikarunia
seorang anak.
Hafiz kembali bertanya, apakah suami
istri itu tau kalo di gunung batu itu ada ketam raksasa tuk ? . “ tidak, ketam itu keluar menampakkan diri saat purnma
datang.” Jawab sang datuk.
Pada suatu malam , sepasang suami itu mendengar suara yang sangat ramai dari luar rumah.
Suara itu sangat gaduh dan membuat mereka terbangun dari tidur lelap.
“ Jayuni kau dengar suara itu ? , ia menggerakkan
tubuh istrinya. Terdengar lagi suara keras dan berderak. Rumah yang terbuat
dari bambu itu bergetar. Mungkin ada manusia lain disini bang, atau mungkin
suara dewa. Si istri mencoba menerka- nerka asal suara itu. Ia lalu bangkit
dari tidur, mengikuti utuh perigi yang telah lebih dulu mengambil posisi dan
duduk bersiaga. Dengan mengendap- endap mereka berjalan menuju pintu.
Terkejutlah utuh perigi saat melihat sosok ketam raksasa sedang berjalan
dilereng dekat huma mereka. Ia seketika mecabut pedang dibalik pintu dan dengan
keberaniannya ia keluar dan berdiri di tanah lapang berhadapan dengan ketam
raksasa tersebut. Ia berteriak dengan lantang .
“ Hei ketam raksasa ! jika kau berniat buruk dan ingin mengganggu kami.
Lebih baik kau enyah dari sini atau kau ingin melihat darahmu mengalir di tanah
!” Suara utuh perigi menggelegar. Ketam raksasa menghentikan gerakannya lalu
menatap pedang yg dihunus kehadapannya. Pedang itu mengeluarkan larik sinar
merah sehingga membuat suasana panas seketika.
“ Hei anak manusia, beribu tahun aku telah mendiami tempat ini, sejuta
purnama telah aku saksikan . bahkan para dewapun mersetui aku. Baru kali ini
seorang anak manusia berani mengusikku. Sebelum wujudmu aku jadikan abu, masih
aku ijinkan kau pergi dengan tenang. Cepatlah ! “. Hardik ketam raksasa.
Suaranya yang menggelegar mengakibatkan
batang pohon disekitanya bertumbangan.
“ Tidak
akan aku tinggalkan tanah subur ini hai ketam tua, sebaiknya engkaulah yang
pergi karena telah membuat istriku ketakutan.” Jawab utuh perigi tak mau
kalah. Mendengar perkataan utuh perigi, si ketam raksasa jadi sangat marah.
Perangpun terjadi....hiat..ciat wus..wus.
Teman
– teman tau berapa lama perang ini terjadi.. 31 hari lamanya. Hingga pada hari yg ke 31 utuh perigi
kelihatan semakin sakti ia berhasil menyusup terbang kearah mata ketam
raksasa.tinggal sedepa lagi ujung pedang tersebut menacap kemata siketam
raksasa, tiba- tiba siketam duduk bersimpuh dan memohon ampun.
“Ampun
beribu ampun wahai anak manusia, aku mengaku kalah, apapun yang tuan inginkan
akan saya penuhi, asal jangan tusuk mata saya. Utuh peigi seorang kesatria ,
melihat musuhnya sudah lemah tak berdaya ia menghentikan serangannya.
Ceritapun terhenti sejenak karena
sihafiz bertanya, apakah mata itu kelemah si ketam tuk ?.. tanya hafiz. “ Ya “
jawab sang Datuk alai singkat. “ kau bisa liat sendiri jika ketam ditusuk
matanya ia perlahan –lahan akan mati. Mau dilanjut ceritanya teman-teman...
“Baiklah,
asal kau dapat memenuhi satu permintaan ku” utuh perigi melemparkan syarat.”
Apapun yang tuan inginkan akan saya penuhi, katakanlah !”. sambut ketam
raksasa. Tunjukkanlah jalan agar kami
dapat memiliki anak “. Mendengar kalimat utuh perigi, sang ketam raksasa
tersenyum. “ Itu pekerjaan mudah tuan, terimalah ini, sambil melepaskan sebuah
mahkota . tanpa banyak bertanya lagi utuh perigi menerima mahkota itu lalu
menyimpannya dibalik kantung celana. “ tunjjukan bagiaman cara menggunakan
mahkota bawang merah ini ? “ tanya utuh perigi.
“Mulai hari ini letakkanlah mahkota ini dibawah bantal , setelah
sembilan bulan tuan akan melihat sendiri khasiatnya. Tapi harap ingat 1 hal’.
Ketam raksasa menghentikan ucapannya. Ditatapnya utuh perigi lekat – lekat
seperti ada yang diragukannya. “ apa itu? ‘ utuh perigi tidak sabar. “ kembalikan mahkota itu padaku
setelah sehari istrimu melahirkan, lewat dari batas itu akan ada bahaya bagi
tuan dan tanah ini “ jawab ketam raksasa memberikan penjelasan.
“ Baiklah, mahkota ini akan saya kembalikan
pada waktunya’ jawab utuh perigi. Iapun segera meninggalkan ketam raksasa.
Cerita berhenti
sejenak, sang datuk melinting tembakau rokoknya.” Rupanya nafsu dan ambisi
manusia bisa membuatnya celaka.demikian
juga dengan utuh perigi dan istrinya.
Mau lanjut ceritanya
teman-teman ...
Setelah sembilan
bulan tenyata sang istri utuh perigi melahirkan seorang anak tapi apa yang
terjadi ? ia ingin kembali hamil. Mendengar keinginan sang istri, utuh perigi
berkata. “ tidak mungkin diyang, akan terjadi balak jika mahkota ini tidak
dikembalikan. “ bukankah abang memilki kesaktian , abang bunuh saja siketam
itu” bujuk sang istri. Utuh perigi terdiam dan bimbang. Di pulau seberang sana
ada pulau yang banyak manusia takkan mungkin siketam bisa kesana. Utuh perigi
semakin bimbang. Tiba- tiba “ baiklah jika begitu, bersegeralah kita pergi dari
sini. Akhirnya sepasang suami istri itu meninggalkan kaki gunung itu, dengan
menggunakan tandu dari bambu utuh perigi menuruni hutan dan meyebrangi lautan
bersama istri dan sang anak yang baru saja lahir.
Apa yang terjadi teman-
teman, hari mulai sore sang ketam raksasa menunggu janji utuh perigi, tapi
tidak ditepati.
Tiba – tiba
tubuh ketam raksasa bergetar hebat, Hei utuh perigi, kembalikan mahkota ku !! “
menggelegarlah suara ketam raksasa sehingga menyebabkan gempa, ketam raksasa
mulai tak terkendali, ia mengagkat sapitimya kearah angkasa hingga seketika
turuh hujan ditambah suara halilintar menggelar..dua...duar... ketam semakin
berang batu-batu gunung berterbangan dan kembali sang ketam mengentakkan
sapinya kebumi..dum..akibat itu membentuklah sebuah alur seperti sungai. Hal
itu terus terjadi sampai 10 kali dan membentuk aliran sungai. Seiring itu pula
tubuh ketam perlahan mengecil, matanya bersinar lemah, dan gunung tempat ia
berdiam ikut pula mengecil.
Nah teman-teman, 10 sungai itulah
yang saat ini dihuni oleh penduduk tanjung jabung timur. Mulai dari sungai
pangkal duri, mendahara, kampung laut, lambur, simbur naik, pemusiran, nipah
panjang serta air hitam. Bagaimana nasib sepasang suami istri itu. Seperti
sumpah yang diucapkan oleh siketam raksasa meraka mendapat bala , saat ketam
menancapkan sapitnya kebumi mereka ikut terkubur.
Nah, teman – teman itulah sebabnya jika
melihat ketam batu selalu menggali lubang mereka masih mencari mahkota mereka
yang ikut terbenam. Kalau tak percaya coba teman – teman ikatkan satu siung
bawang merah , pancinglah ketam batu pasti ia akan menangkapnya sebab ia kira itu mahkotanya.
Teman – teman, kita
dapat memetik pelajaran dari kisah ini, dimana jika kita berjanji tepatila dan
jangan mengingkarinya. Karena ingkar janji dapat membuat malapetaka.
Demikinlah cerita saya.
Sebelum saya akhiri saya ingin berpantun.
Created : Muhammad Yatim , S.Pd
( Dengan perubahan sendiri, diperlombakan pada Lomba bercerita daerah TK.Kab.tanjung Jabung Timur tahun 2015 )
Sumber : Buku Cerita Tanjab Timur karangan M.Yusuf Asni